Jum'at, 30 Juli 2010, 00:32:36 WIB

HomeBursa EventBursa ProductsBursa InfoBursa OpiniContact UsAbout Us
Home arrow Cerita Silat arrow Pendekar Ulat Sutera (Tian Chan Bian) arrow Pendekar Ulat Sutera (Tian Chan Bian) 004
Member
Cerita Silat
Profil Anda
Private Message (PM)
Daftar Member
Promosi Bursa Products
Kirim Artikel
Body Mass Index (BMI)
Games
Terms of Service
Saran untuk member
Artikel Terbaru
Populer
Pendekar Ulat Sutera (Tian Chan Bian) 004
Rabu, 06 Januari 2010

Beberapa depa dari tempat tersebut, di hadapan sebuah tembok tinggi, belasan murid Bu-tong-pai sedang melatih ilmu melemparkan senjata rahasia. Seseorang bertubuh tinggi kurus berdiri di belakang memperhatikan. Tangannya juga kurus sekali. Namun yang mengherankan justru telapak tangannya begitu besar dan jauh berbeda dengan biasanya. Dialah generasi muda dari Bu-tong-pai. Ilmu silat dan senjata rahasianya terlatih dengan baik. Dia bernama Yo Hong.

Di hadapan tembok terdapat sebuah papan kayu berbentuk tubuh manusia. Di sekitarnva sudah terdapat beberapa senjata rahasia yang dilemparkan. Yo Hong berjalan melalui salah seorang murid di situ. Tubuhnya bergerak ke samping. Secepat kilat tangannya diulurkan dan mengibas. Sebatang pisau terbang menancap di tengah dada papan kayu berbentuk tubuh manusia tadi.

Setiap murid Bu-tong-pai yang ada di tempat itu mengangkat wajahnya dan memandang dengan terkejut. Yang paling terkejut justru seseorang yang berdiri beberapa senti di samping papan kayu tersebut.

Pagi hari di atas gunung memang jauh lebih dingin dari pada di kaki gunung. Namun sekarang masih belum saatnya untuk memakai mantel berbulu yang tebal. Orang itu mengenakan beberapa helai mantel yang cukup tebal. Kelihatannya aneh sekali. Bahkan kaki dan lengannya juga tertutup oleh mantel yang tebal dan kepanjangan itu. Begitu pun bagian kepalanya. Hanya sepasang matanya yang kelihatan. Dan yang paling aneh justru di depan dan belakang tubuhnya dilapisi oleh selembar besi yang lebar.

Secara otomatis kepalanya menoleh ke arah suara pisau terbang yang menancap di atas papan kayu tadi. Matanya terbelalak dan ketakutan.

"Berlatih senjata rahasia bukan saja memerlukan kecepatan, tapi juga harus dapat mengukur dengan tepat dan memakai naluri," kata Yo Hong tenang. Matanya mengerling dan terhenti kepada orang yang memakai mantel tebal tersebut. "Sekarang giliranmu."

Tubuh orang itu gemetar.

"Aku?" tanyanya gugup.

"Mengapa bengong-bengong di sana?" sentak Yo Hong.

Mata orang itu bersinar. Akhirnya dia menyandarkan tubuhnya pada sebuah papan kayu berbentuk tubuh manusia dan mengikatnya ke pinggang sendiri.

Yo Hong membalikkan sebagian tubuhnya dan berseru, "Pukul tambur!"

Di bawah pohon di ujung sana ada sebuah tambur yang terbuat dari kulit kerbau. Seorang murid Bu-tong-pai yang bertelanjang dada mendekati tambur tersebut dengan dua buah pentungan kayu di sepasang tangannya. Dia memukul tambur dengan sekuat tenaga. Suaranya yang memekakkan telinga membuat orang itu terkejut. Dia meloncat beberapa kali dan akhirnya berhenti di hadapan para anak murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih senjata rahasia.

"Mulai!" teriak Yo Hong.

Mendengar suara Yo Hong, kaki orang itu semakin lemas. Dia tidak sanggup berdiri tegak, apa lagi melarikan diri dari tempat itu. Sementara itu murid-murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih itu segera menimpukkan senjata rahasianya.

"Sret! Sret! Sret!" suara senjata rahasia segera terdengar susul-menyusul. Beberapa di antaranya mengenai papan kayu tadi. Dan sisanya persis menancap di samping bahu orang tersebut.

Senjata rahasia itu terdiri dari berbagai jenis. Keahlian mereka pun berbeda-beda, baik gerakan pinggang maupun kuatnya tenaga ketika menimpuk. Namun mereka belum seberapa pandai melakukannya. Tampaknya orang yang bersandar pada papan kayu itu kapan saja dapat menjadi sasaran empuk senjata rahasia tadi.

Untung saja pakaiannya tebal sekali. Sedangkan pada bagian yang berbahaya dilindungi oleh selembar besi yang lebar. Tentu saja otaknya sama sekali tidak sinting. Dia sadar dirinya dijadikan sasaran hidup. Untuk berlatih senjata rahasia, tentu saja sasaran hidup lebih sukar daripada sasaran yang berbentuk benda mati. Setelah berhasil berlatih dengan benda mati. mereka baru boleh melanjutkan dengan benda hidup. Para murid Bu-tong-pai sudah mempunyai kemampuan tersebut. Namun hari ini adalah untuk pertama kalinya mereka berlatih dengan sasaran hidup.

Bagi mereka, tentu saja latihan ini sangat menyenangkan. Namun bagi orang yang menjadi sasaran itu, sama sekali tidak menyenangkan, bahkan mengerikan. Entah apa maksud orang yang memukul tambur itu. Mungkin dia sengaja ingin menyulitkan orang yang menjadi sasaran hidup tersebut. Dia memukul tamburnya semakin keras saja.

Diiringi suara desingan senjata rahasia. Bahu orang yang menjadi sasaran terkena lagi tiga batang senjata rahasia. Suara pukulan tambur dan desingan senjata masih terus berlangsung, namun senyum lebar orang yang memukul tambur sudah lenyap. Begitu juga dengan murid Bu-tong-pai yang lain. Pada saat itu, senjata rahasia yang ditimpukkan tidak mengarah pada papan kayu tadi lagi, tapi pada orangnya.

Orang itu juga dapat merasakan kesengajaan mereka. Matanya yang tersembul di balik kerudung memancarkan kemarahan. Kakinya berdiri tegak.

"Apa sebetulnya yang kalian inginkan?" teriaknya. Dalam waktu yang bersamaan, beberapa senjata rahasia sudah mengincar dirinya kembali. Kedua tangannya terangkat dan menangkis secara serabutan.

Dia dapat melihat sasaran mereka bukan lagi papan kayu tadi. melainkan dirinya. Suara yang memekakkan telinga tetap terdengar. Senjata rahasia yang ditimpukkan tidak satu pun yang mengenai papan kayu. Semuanya menancap di pakaiannya yang tebal.

Baru sekarang orang yang memukul tambur itu dapat tertawa kembali. Sebelumnya mereka begitu serius sehingga suasana menjadi hening.

"Siapa suruh kau berdiam diri di tempat itu? Kalau masih tidak mau lari, jangan salahkan kami kalau tubuhmu menjadi perkedel!" teriaknya lantang. Pukulan tamburnya semakin bergemuruh dan membisingkan.

Kali ini, orang yang menjadi sasaran hidup itu segera lari kalang kabut. Dia tidak menentukan arah ke mana dia harus lari. Akibatnya, senjata rahasia tetap mengikutinya dan menancap di belakang tubuhnya. Untung saja pakaiannya begitu tebal sehingga tidak ada satu pun yang melukai dirinya. Tujuh orang murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih itu tibatiba saja menjadi bodoh. Timpukan senjata rahasia mereka semakin melenceng jauh. Hal ini tidak perlu diherankan. Mereka biasa berlatih dengan papan kayu yang tidak bergerak, sedangkan sekarang sasaran mereka merupakan manusia hidup yang bergerak mengikuti kemauan hatinya. Suara tambur semakin keras, menenggelamkan suara tawa mereka.

Hanya suara Yo Hong yang terdengar jelas. Dia malah terpingkal-pingkal melihat kejadian tersebut. Mata orang yang dijadikan sasaran menyorot semakin berang. Tiba-tiba dia berteriak nyaring dan menerjang secepat kilat. Dia menerjang ke arah Yo Hong.

Namun sesampainya di hadapan pemuda itu, langkah kakinya berhenti. Dia masih belum mempunyai keberanian untuk melawan Yo Hong. Dengan kesal dia membuka papan kayu yang terikat di pinggangnya dan dilemparkan ke atas tanah. Dia juga membuka kerudung kepalanya yang tebal.

"Aku tidak mau melakukannya lagi?" katanya kesal.

Ketika kerudungnya dibuka, terlihatlah sebuah wajah yang masih muda belia. Dia tidak disebut tampan, namun kalau diperhatikan juga tidak terlalu jelek. Rambutnya sudah basah oleh keringat. Keningnya dipenuhi keringat sebesar-besar kacang kedelai. Mengenakan pakaian yang demikian tebal pada cuaca seperti ini sungguh tidak menyenangkan.

 
< Prev   Next >

Top 20
We have 87 guests online
Bursa Info
Umum
Hoax atau Berita Bohong
Bursa Resto
Bursa Resep
Tip Praktis
Comtronic Corner
Kesehatan
Inspirational
Bermain Sains
 
© 2006 Bursa Internet
Powered by JANOKO.com
Best viewed in 1024x768 or more