|
"Bagaimana kepandaian kami bila dibandingkan dengan delapan belas tahun yang lalu?" tanya si wanita berpakaian warna-warni penasaran. "Jauh lebih baik. Namun menurut pendapatku, masih tetap terpaut cukup jauh. Misalnya sam-moay ...," pandangan mata manusia berpakaian abu-abu beralih kepada satu-satunya wanita yang ada di sana. "Kau masih belum mengubah kebiasaanmu mengenakan pakaian yang berwarna-wami itu." "Aku memang menyukai pakaian yang indah," sahut wanita itu sambil mengembangkan sebuah senyuman yang dipaksakan. "Toako lupa bahwa sam-moay adalah seorang wanita. Mencintai keindahan adalah sifat wanita pada umumnya," tukas manusia berpakaian merah. "Lagipula, dengan pakaian warna-warni yang begitu mencolok, setiap musuh yang memandangnya mungkin akan menjadi silau dan lupa diri. Pada saat itu tepat sekali untuk melancarkan senjata rahasia," kata manusia berpakaian abuabu yang kemudian menarik napas sekali lagi. "Namun, bisa jadi pihak musuh malah menjadi waspada sebelumnya." Semua orang terdiam. Mata manusia berpakaian abu-abu itu beralih kepada yang lain lalu berpindah pada setiap orang. "Seandainya kita gagal lagi kali ini, tampaknya kesempatan kita tidak akan ada lagi. Ada sedikit perkataan yang sebetulnya ingin kusimpan dalam hati ini. Namun seperti sesuatu yang mencekat di tenggorokan, rasanya tidak enak kalau belum dikeluarkan." "Kalau begitu, keluarkan saja." "Selama beberapa tahun ini, aku percaya kalian sudah banyak menderita. Aku juga yakin orang yang dapat melawan kita di dunia kangouw sekarang sudah tidak banyak." "Lalu ... apa lagi yang kita nantikan?" tanya si manusia berpakaian merah sambil membusungkan dadanya. "Dengan mengandalkan kepandaian kita, rasanya masih belum cukup untuk menguasai dunia kangouw. Kita semua sudah berusaha sekuat tenaga, tampaknya kita tidak mungkin maju lebih jauh lagi. Meskipun kita berlatih dengan berat dan tanpa mengenal panas atau pun hujan. Kita tetap tidak bisa maju lebih banyak lagi," kata manusia berpakaian abu-abu itu dengan wajah tertunduk. "Mungkin kita harus mempelajari ilmu orang lain ...." Manusia berpakaian putih paling jarang membuka mulut. Tibatiba dia menukas "Bukankah tujuh ilmu pusaka dari Bu-tongpai paling cocok sebagai pilihan?" Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya tanpa menyahut. Wanita dengan pakaian warna-warni itu tertawa lebar. "Sayangnya usia kita semua sudah terlalu tua. Meskipun dengan kebulatan tekad ini, kita tidak segan-segan datang ke Bu-tong-san dan memohon diterima sebagai murid, namun aku yakin Ciangbunjin (ketua) Bu-tong-pai tidak akan menerima kita," sahutnya. "Lalu ... apa yang harus kita lakukan?" tanya manusia berpakaian merah dengan wajah cemas. "Untuk mempelajari ilmu aliran orang lain, menurut pendapatku, paling tidak ada tujuh ratus cara untuk melakukannya," kata sang toako. "Tidak salah. Kalau toako berani berkata demikian, aku yakin toako pasti sudah menemukan jalan yang dapat diandalkan," sahut si manusia berpakaian putih. Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya. "Sebenarnya bukan aku yang menemukan jalan ini. Sebelumnya sudah ada orang lain yang pernah mencobanya dan berhasil." Ketiga orang yang lainnya seperti teringat sesuatu. Mimik wajah mereka berubah-ubah. "Setelah mengalami kegagalan satu kali, rasanya kita tidak akan ceroboh lagi," kata si manusia berpakaian abu-abu. "Tapi siapa di antara kita yang cocok mengemban tugas ini?" tiba-tiba si putih itu bertanya. "Siapa pun tidak cocok," si putih kembali mengedarkan pandangannya. "Usia kita terlalu tinggi. Lagipula dengan nama besar yang pernah kita sandang, aku yakin tidak seorang pun di antara kita yang kuat menahan hinaan seperti ini," lanjutnya. Ia lalu mengerutkan keningnya, "Apakah toako menginginkan dia?" tanyanya seperti kepada diri sendiri. "Coba katakan, bukankah 'dia' yang paling sesuai dan tepat untuk mengemban tugas ini?" manusia berpakaian abu-abu itu tersenyum lebar. Kembali si putih manggut-manggut mengiakan. Wanita yang mengenakan pakaian warna-warni itu mengerling genit. Dia tertawa terkekeh-kekeh, "Sebenarnya 'dia' juga anak yang cerdas sekali," tukasnya. "Setidaknya lebih cerdas dari aku," sahut rekannya yang berpakaian merah. "Kalau kalian semua tidak ada yang merasa keberatan, maka kita putuskan begitu saja," selesai berkata tubuh toako mereka melesat ke atas bagaikan segumpal asap. Kemudian dia menutulkan kakinya di atas sebuah batu kerikil dan melayang pergi. Ketika manusia berpakaian merah memungut goloknya yang dilempar tadi, bayangan si wanita berpakaian warna-warni sudah tidak terlihat lagi. "Sungguh menyenangkan! Sungguh menyenangkan!" serunya lantang. Dia tertawa terbahak-bahak lalu berjalan ke arah dari mana dia datang tadi. Si putih memandangi bayangan punggung laki-laki tinggi besar berpakaian merah itu sampai menghilang dari pandangannya. Dia memutar pergelangan tangannya dan mencabut sarung pedang yang amblas dalam batu besar tadi. Tubuhnya berkelebat, terbang melalui sungai yang mengalir deras, menghilang dalam hutan yang lebat. Batu besar itu pecah berantakan. Kepingan-kepingannya jatuh ke dalam air dan menimbulkan percikan-percikan. Ketika bunga-bunga air tidak terlihat lagi, semuanya kembali seperti sedia kala. Angin barat bertiup makin kencang. ***** Menjelang pagi ... kegelapan belum seluruhnya memudar. Kabut masih menebal. Dua puluh tujuh bangunan besar kecil tertutup kabut. Begitu tebalnya sehingga atap bangunan itu pun tidak dapat terlihat jelas. Seluruh Bu-tong-san (Gunung Bu-tong) tampak bagai nirwana bagi manusia. Lonceng nyaring berbunyi. Kumandangnya bergema melalui gunung yang tinggi. Bagi Bu-tong-san sendiri, suara lonceng itu menandakan bahwa hari yang baru sudah dimulai. Suara lonceng itu terdengar terus. Saling susul-menyusul. Kabut perlahan mulai menipis, seolah terpencar oleh suara lonceng tersebut. Ketika suara bacaan ayat suci perlahan menghilang dari gedung yang beratap ungu, para murid Bu-tong-pai sudah bersiap di lapangan terbuka. Mereka mulai melatih ilmu yang mereka kuasai. Suara sentakan pasang surut. Sebagian besar murid Bu-tong-pai bertelanjang dada. Mereka adalah murid- murid yang berlatih ilmu tinju. Suara dan gerakan mereka sama teraturnya.
|