|
Namun ternyata tidak. Kedua tangannya yang tersembul dari balik lengan baju demikian halus dan berseri. Apa lagi ketika dia mengangkat tangan kanannya dan merapikan rambutnya yang tergerai karena tiupan angin nakal. Gayanya begitu mempesona. Tidak beda dengan wajahnya yang cantik menggiurkan. Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tidak akan percaya bahwa tangan yang indah dapat menyebarkan jarum yang demikian beracun dan mematikan. Begitu tangannya yang halus mengebas, jarum yang berjumlah empat puluh sembilan batang itu menghambur bagai hujan anak panah di angkasa. Kecepatannya sulit dilukiskan. Sekali lihat saja, orang akan tahu bahwa ilmu menggunakan senjata rahasia wanita itu tidak dapat dipandang remeh. Manusia berpakaian abu-abu itu menatap daun yang melayang jatuh di alas batu tadi. Dia menghela napas panjang. "Sayang sekali .... " "Apanya yang sayang sekali?" tanya wanita itu sambil tersenyum simpul. Senyum dan suaranya ternyata sama menggiurkan seperti orangnya sendiri. "Empat puluh sembilan batang jarum sekaligus dilancarkan dan tepat mengenai daun tersebut. Siapa pun akan mengakui bahwa cara menggunakan senjata semacam ini termasuk kelas satu di dunia kangouw. Namun belum dapat disebut tidak terkalahkan," sahut manusia berpakaian abu-abu. "Bagaimana menutupi kekurangan tersebut?" tanya wanita itu kembali. "Perubahan dalam gerakan," sahut manusia berpakaian abuabu. "Untuk menyebarkan empat puluh sembilan batang jarum tersebut, setidaknya harus menggunakan tujuh perubahan." "Apakah tujuh jurus perubahan tidak terlalu banyak?" "Tidak banyak ...." mata manusia berpakaian abu-abu itu beralih kepada wajah wanita itu. "Sebelum senjata rahasiamu mencapai sasaran, paling tidak aku dapat menjalankan lima jurus perubahan. Meskipun belum dapat disamakan dengan jurus Te-hun-cong dan Bu-tong-pai, namun sudah pasti dapat menghindarkan diri dari senjata rahasiamu. Mungkin aku masih sempat melancarkan sebuah serangan kepadamu." "Untung saja manusia yang mempunyai ginkang setinggi toako sudah jarang di dunia ini. Menurut apa yang aku ketahui, ilmu Te-hun-cong dari Bu-tong-pai sudah kehilangan ahli warisnya," kata wanita itu. "Kalau menurut apa yang aku ketahui, justru tidak ...." mata manusia berpakaian abu-abu itu menyorot bagai seekor elang sedang menanti mangsanya. "Paling tidak, aku sudah melihat salah seorang murid Bu-tong-pai yang sanggup memainkan jurus tersebut." "Mungkinkah yang kau maksudkan adalah Bu-tong Tiang Ceng?" tanya wanita itu penasaran. "Benar ... memang Ci Siong tojin," lagi-lagi manusia berpakaian abu-abu itu menarik napas panjang. "Te-hun-cong adalah salah satu dari tujuh ilmu pusaka Bu-tong-pai. Mana mungkin dibiarkan kehilangan ahli warisnya begitu saja?" "It-ciu-jit-am-gi (sekali lempar tujuh senjata rahasia) juga termasuk salah satu di antaranya." "Memang betul," sahut manusia berpakaian abu-abu. "Bagaimana kalau dibandingkan dengan Moa-ti-hue-ho (hujan bunga di seluruh permukaan bumi)?" tanya wanita itu. "Dapatkah kau melancarkan tujuh buah senjata rahasia yang jenisnya berlainan dan beratnya tidak sama serta harus mencapai sasaran dalam waktu yang bersamaan?" malah balas bertanya sewaktu ditanya. "Apakah demikian cara memainkan jurus It-ciu-jit-am-gi?" Manusia berpakaian abu-abu itu menganggukkan kepalanya tanpa bersuara. Wanita itu merenung sekian lama. Tidak terlihat lagi sedikit pun senyuman menghias bibirnya. Manusia berpakaian putih yang berdiri tegak di atas batu itu mengedarkan pandangan dengan sinar matanya yang tajam. "Apakah kecepatan dan ketepatan Liong-gi-kiam-hoat dari Butong- pai dapat menandingi ilmu pedangku tadi?" tanyanya tiba-tiba. "Jauh lebih cepat dan tepat." "Apakah semua yang dikatakan toako ini benar adanya?" tanya manusia berpakaian putih itu lagi sambil tertawa dingin. Yang ditanya tidak menyahut lagi. Dia hanya tertawa lebar. Manusia berpakaian putih itu masih memandangnya. Wajahnya berubah pucat. Pada saat itu juga terdengar sebuah suara berkumandang dari dalam hutan. "Entah bagaimana kalau dibandingkan dengan Peng-lui-to aku ini?" Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berjalan keluar dari dalam hutan. "Maksudmu ... membandingkannya dengan Kui-soa-to dari Bu-tong-pai?" tanya si manusia berpakaian abu-abu. Tubuhnya kekar. Gumpalan daging di dadanya sudah berotot. Pakaiannya berwarna merah seperti para pemburu yang mana sebelah lengannya telanjang. Namun dia menyandang sebuah golok yang besar. Cahaya memijar, goloknya yang telah terhunus berkelebat, lalu melayang turun ke arah daun yang tertancap berpuluh batang jarum beracun tadi. Sebelum mata yang lain sempat melihat dengan jelas, batu besar yang terdapat di tengah sungai itu telah terbelah menjadi dua bagian. Manusia berpakaian merah tadi menarik goloknya kembali kemudian mengacungkannya ke atas langit dan berteriak nyaring. Suara teriakannya persis seperti petir yang menyambar, membuat hati yang lainnya tergetar dan jantung mereka berdegup kencang. Pandangan mata manusia berpakaian abu-abu mengikuti gerakannya. "Bagus!" katanya. Manusia berpakaian merah itu tertawa terbahak-bahak. "Toako hanya berharap setiap musuh yang kau hadapi seperti batu itu adanya," rupanya perkataan manusia berpakaian abuabu tadi belum selesai. "Apa maksudnya?" "Berdiri tegak di tempatnya dan menantikan kedatangan golokmu yang akan menebasnya menjadi dua bagian," jawaban selanjutnya. Manusia berpakaian merah itu menggertakkan giginya. Dia langsung menerjang ke arah manusia berpakaian abu-abu dan menyerangnya sebanyak tiga belas kali. Manusia yang menyebut dirinya toako itu seperti tidak tahu. Namun begitu golok itu sudah berada dekat dengan dirinya, tubuhnya yang tinggi kurus mencelat ke atas seperti terbang di udara. Dengan gesit dia menghindarkan semua serangan itu lalu melayang turun ke atas sebuah batu yang lain. Manusia berpakaian merah itu tidak mengejarnya. Dengan kesal dia melemparkan goloknya di atas tanah. ***** "Delapan belas tahun ...," gumam si manusia berpakaian abu-abu itu. Dia menarik napas panjang. Wajahnya seakan bertambah tua beberapa tahun.
|