Indra (User)
Senior Boarder
Posts: 71
|
|
Re:Blog I hate Indon 2 Years, 7 Months ago
|
Karma: 5
|
Ini ada jawaban dari teman saya, mudah-mudahan bermanfaat:
QUOTE: Memang panas kalau baca, apalagi denger istilah Indon (sebutan buat pembokat).
Tapi waktu saya ke Malaysia, istilah itu malah saya & teman2 gunakan untuk saling mengejek antar kita, membedakan kasta antar kita sendiri...hehehe...
Soal tulisan ttg Indon itu, ah sudahlah...
Itu kan cuma tulisan bebas di Internet, gak usah ditindaklanjuti secara hukum, apalagi oleh level pemerintah RI.
Mana tahu yg nulis cuma 'mamang-mamang' asal njeplak, terasa dari isi tulisannya bukan.
So... gak level khan?!?
Kesel-kesel dg Malaysia, gak ada gunanya buang2 energi.
Sebab dari kecil pun saya sudah 'dididik' dan 'terinternalisasi' dalam keluarga bahwa tetangga kita yg satu itu culun.
Semisal, dari jaman saya TK/SD (mid 70s), mbah saya (yg sempat tinggal di Aceh & Tumasik/Spore jamdul) selalu kasih 'kuliah' (baca: cerita ortu yg diulang-ulang) kalau lagu kebangsaan Malaysia itu diambil dari lagu rakyat Indonesia (irama melayu) berjudul "Bulan Di Atas Rawa".
Kesan saya dari dulu, tetangga kita itu budayanya lebih rendah dari kita alias budaya sisa-sisa atau terpaan.
Makin saya besar saya makin melihat kalau tetangga kita itu culun abes.
Dari dulu, istilah-istilah mereka menggelikan buat saya dan menurut saya level bahasa Melayunya itu lebih rendah (melayu pasar) drpd melayunya Indonesia dan tidak terstruktur spt Bahasa Indonesianya Gorys Keraf atau Yus Badudu.
Istilah2 spt: "pintu kecemasan", "kantor ibu pejabat", "siram-siram bumi", "pusing-pusing", dsb. itu absurd bagi saya.
Menandakan miskinnya vocabulary dan menandakan level budaya yg lebih rendah, di mana tidak ada tingkatan untuk suatu istilah yg sesuai dg konteksnya. Semisal dalam bahasa Inggris kan ada "crazy", "mad", "insane", dsb.
Dalam bahas Jawa ada "gendeng", "edan", dsb. Dalam bahasa Indoesia sehari-hari ada "gila", "sarap", "gelo", "sedenk", dsb.
Setamat kuliah, saya menemukan bahwa adanya pengaruh ideologi dan politik Indonesia bagi Malaysia.
Di salah satu museum di Malaysia, ada dokumen yg menceritakan bahwa seyogyanya kalau tidak ada kecelakaan sejarah dg penculikan Rengasdengklok, wilayah Malaysia Semenanjung itu menjadi bagian dari wilayah yg diproklamirkan oleh Sukarno & Hatta.
Ceritanya, para aktivis di sana waktu itu kagum sama gerakan di Indonesia. Mereka berniat memproklamirkan negerinya dari Inggris. Tapi tidak ada satupun tokoh aktivis yg sekaliber dg seabreg aktivis2 di Indonesia spt Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Cokroaminoto, Haji Agus Salim, dsb. yg punya pikiran maju dan massa yg banyak.
Karena itu mereka berniat bergabung dg Sukarno yg pengaruh dan fans beratnya banyak hingga ke Malaysia. Sedianya proklamasi Indonesia itu akan dilaksanakan tgl 18 Agustus di Johor Baru. Sukarno & Hatta ditunggu kehadirannya tgl 16 Agustus untuk dijemput kurir yg akan menghantar kepada para simpul2 aktivis dan tokoh2 masyarakat di Malaysia. Tapi berhubung keduanya tidak nongol (karena diculik), mereka menganggap tidak jadi ada proklamasi. Eh tau2 ada proklamasi di Jakarta, so tidak termasuk wilayah Semenanjung deh jadinya.
Bukti pengaruh ideologi Indonesia ke Malaysia, juga terlihat dari dasar negara Malaysia yg sesungguhnya terilhami atau meniru Pancasila.
Malaysia juga punya 5 sila buat dasar negaranya.
Tetapi dasar culun yg diilhami/dicontek cuma jumlahnya bukan substansinya.
Secara substansi, dasar negara Malaysia ini mah culun dech, gak seperti Pancasila yg sudah diakui dunia itu.
Kalau gak salah, 5 sila Malaysia itu: Setia kepada Raja, Setia kepada Negara, Setia kepada Agama, Menghormati Istri dan Keluarga Raja, gitu2 deh gak afal (ngapain juga). Pokoknya culun abis dech.
Dari cerita saya dan kasus2 terakhir yg terjadi spt 'ngaku-ngakuin' hasil karya budaya/intelektual Indonesia, kita justru bisa bangga sebagai orang Indonesia bahwa di situ ada HEGEMONI BUDAYA DAN IDEOLOGI INDONESIA ATAS MALAYSIA.
Pengakuan karya budaya bagi saya sebetulnya diakuinya sesuatu sebagai hal yg luhur dan diterima menjadi bagian internal dari diri dan kehidupan bangsanya.
Jadi, orang Malaysia itu mengakui hal-hal yg dari Indonesia itu sebagai sesuatu yg luhur dan mau dijadikan alias diteladani alias ditiru dalam keseharian kehidupan mereka.
Seorang seniman pernah bilang pada saya bahwa peniruan adalah bentuk penghormatan yg paling tinggi terhadap sebuah karya.
Jadi, apalagi 'ngakuin' karya orang lain (ini terlepas dari masalah hukumnya ya).
Sebetulnya itu semua teguran bagi pemerintah Indonesia/aparat/pejabat publik yg sejak dulu hingga sekarang gak pernah menghargai milik/budaya bangsa sendiri sampai itu diambil orang.
Sipadan-Ligitan lepas ke Malaysia kita ribut, tapi dari dulu yg ngebagusin daerah itu cuma Malaysia. Penduduknya semua dikasih KTP secara otomatis, coba kalau Indon, pasti suruh ngurus sendiri plus ada punglinya lagi.
Lihat saja, benda-benda pusaka berharga di museum/situs2 gak pernah diurusin sampai dicuri/dijual orang baru ribut.
Kita gak pernah punya strategi kebudayaan yg melindungi, menghargai dan mengembangkan budaya kita.
Kita juga gak pernah benar2 menjaga milik kita, termasuk menjaga rakyatnya.
Tapi menghadapi Microsoft, pemerintah/aparat kita begitu santun dan tunduk sampai sigap ngebantu merazia penggunaan software2 bajakan di kantor2/tempat usaha. Sampai OS dan aplikasi di seluruh departemen diganti menjadi Microsoft semua padahal sudah mendevelop dg dana APBN juga sebuah OS dan aplikasi karya bangsa.
Sampai-sampai UU Hak Cipta kita bisa diatur-atur/ditekan sama kongres AS yg sebelumnya telah berunding dg para pemimpin MNC/TNCnya.
Tetangga kita, Malaysia, memang culun tapi secara ekonomi lebih baik dan lebih teratur di sana.
Malaysia selalu belajar dari kita tapi selalu lebih unggul. Lihat saja Petronasnya lebih maju dari Pertamina sang guru (soalnya banyak korupsi), belum lagi Telkomnya, perkebunannya, dll yg pada awalnya semua belajar dari Indonesia.
Sebetulnya di sektor karet, kita yg belajar dan ngambil bibit unggul dari Malaysia, sekarang saya tahu ada putra Indonesia di Bengkulu sana yg berhasil mengungguli Malaysia.
Bibit unggul yg di Malaysia baru bisa dipanen 4 tahun, di Bengkulu (PTPN VII) dg ramuan ala Indonesia bisa menjadi 3 tahun 3 bulan.
Tapi sayang, pihak-pihak terkait malah tidak menyadari/menghargai dan serius mengolah temuan ini. Yg ada, saling sikut.
Proposal 'sang penemu' malah ditahan di balik meja, dsb. Ya itulah Indonesia.
Kesimpulan, gak usah sewot sama Malaysia, sewotlah sama bangsa sendiri, sikap mentalnya dan cara mengurus negerinya.
Buat saya Malaysia dan Indonesia beda, titik. Jadi gak make sense lah kalau mereka ngakuin lagu Rasa Sayange yg asal Ambon dan Reog Ponorogo (dah beda etnis tuh keduanya ama melayu).
Gak usah diusut secara hukum, org yg punya mata dan punya otak juga bisa melihat itu janggal dan itu sebuah buaya import, bukan orisinal.
Istilah kata, itu semua 'cover version' yg dibawa imigran2 dari Indon. Soal imigran, memang banyak imigran Indonesia di Malaysia dari dulu.
Di Sabah banyak orang Flores yg sudah beranak-cucu-cicit, bahkan dicurigai pemerintah pusat Semenanjung, krn dianggap sbg aktivis yg ngompor2in untuk merdekanya wilayah Sabah & Sarawak (mayoritas Kristen/Anglikan dan etnis Dayak/Cina) dari Malaysia.
Mereka dianggap di belakang Joseph Pairin Kitingan, pemimpin Sabah terkuat yg pro kemerdekaan, yg digulingkan/ditangkap Mahatir Mohamad lewat UMNOnya dan tentara diraja Malaysia.
Waktu saya ke Malaysia, orang-orang di sana selalu bersikeras minta saya cakap Melayu saja karena menurut mereka sama.
Saya selalu kembali ke English krn saya bilang bahasa kamu tuh beda, saya gak akan ngerti (gak tau kalau mereka ngerti bahasa saya).
Buat saya Malaysia tetap lebih CUPU. Kiblat musik anak mudanya tetap ke artis Indonesia.
Kalau kita bisa membaca secara psikologis,tindak-tanduk Malaysia adalah sikap gertaknya dalam ketakutannya menghadapi Indonesia yg punya HEGEMONI BUDAYA DAN IDEOLOGI terhadap Malaysia, ditambah dengan sumber daya alam dan manusia yg lebih besar dari Malaysia.
Kondisi di Indonesia akan berpengaruh langsung ke sekitarnya.
Asap, bencana alam, instablitas politik, dsb.
Reformasi 1998, pengaruh ke gerakan reformasinya Anwar Ibrahim (yg disikat Mahatir) dan juga pemimpin oposisi Singapura.
Alm. Arifin C. Noor waktu kasih kuliah bilang ke saya, "Orang Malaysia itu norak tapi yakin!"
Kita bisa belajar dari Malaysia yg CUPU itu. Termasuk pembelaan Dubesnya di depan media massa Indonesia baru2 ini (http://www.bursainternet.com/pergi.php?ke=http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/05/time/192326/idnews/862673/idkanal/10).
Sebuah pembelaan yg CUPU tapi para menteri/pejabat publik kita harusnya bisa belajar dg cara2 diplomasi yg "norak tapi yakin" itu.
Belajar buat gak terus2an menjadi minder wardeg atau memunculkan mental/insting inlandernya (akibat kelamaan dijajah, 350 tahun bo) dalam menghadapi orang asing biar gak selamanya dijajah.
cheers,
-iyo-
|
|