|
|
Re:Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana (1 viewing) (1) Guest
Favoured: 0
|
|
|
TOPIC: Re:Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana
|
|
|
|
Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana? 2 Years, 7 Months ago
|
Karma: 1
|
|
Harga minyak dunia melonjak-lonjak, sehingga walau pun Indonesia merupakan negara penghasil minyak, tapi terpaksa menanggung rugi akibat subsidi BBM konsumsi dalam negeri.
Kerugian tersebut sebenarnya masih di area abu-abu, di mana masih banyak pihak yang mempertanyakan: "Kok bisa rugi? Bukankah tinggal pakai minyak produksi Indonesia, jadi tidak perlu keluar uang subsidi melainkan untung berkurang?"
Sejumlah jawaban dilontarkan, tapi toh belum memuaskan publik.
Mungkin kita tak perlu berpanjang, pokoknya - singkat cerita - pemerintah menanggung beban subsidi dan penggunaan premium diharapkan dikurangi sehingga nilai subsidi dapat berkurang pula.
Belum lama ini, diluncurkan wacana peluncuran premium 90 dengan harapan agar sejumlah pengguna kendaraan pribadi mau meninggalkan premium bersubsidi penuh (premium 88) dan beralih ke premium bersubsidi sebagian (premium 90)
Harga premium 90 sudah tentu lebih mahal daripada premium 88, walau pun "tidak terlalu jauh"
Sejumlah strategi dirancang untuk mengarahkan, membujuk, menghimbau dan memaksa pengguna kendaraan pribadi yang katanya merupakan orang berkecukupan, agar mereka beralih ke premium 90.
Tapi, apakah wacana tersebut akan berhasil?
Apakah sudah ada kajian yang mendalam tentang apa yang akan dilaksanakan dalam rangka pengubahan bahan bakar tersebut?
Mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdik (baca: licin), maka apakah sudah dilakukan kajian mendalam tentang kemungkinan keberhasilan peluncuran produk tersebut?
Jangan-jangan, peluncuran premium 90 ini cuma menjadi proyek asal jalan (baca: yang penting saya dapat komisi); Bukankah kita sudah mempunyai contoh proyek yang gagal yaitu penggantian BBM ke BBG?
Kita semua berharap agar usaha pemerintah mengurangi subsidi BBM (termasuk peluncuran premium 90 ini) memang benar berhasil, tapi mungkin ada cara lain yang lebih mujarab?
|
|
|
|
|
|
|
The administrator has disabled public write access.
|
Indra (User)
Senior Boarder
Posts: 71
|
|
Re:Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana? 2 Years, 7 Months ago
|
Karma: 5
|
Kenapa tidak ada yang menanggapi ya?
Bagaimana dengan penggunaan biofuel?
Bagi yang belum tahu tentang biofuel, silahkan lihat di Biofuel - Apa?
|
|
|
|
|
|
|
The administrator has disabled public write access.
|
|
|
|
Re:Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana? 2 Years, 7 Months ago
|
Karma: 0
|
|
Mustinya jangan pakai premium 90 melainkan pakai biofuel.
Banyak negara maju mau pun berkembang sudah mulai pakai biofuel yang dijual paling murah dibandingkan semua jenis bahan bakar lain.
Untuk angkutan umum, biarkan mereka memilih antara biofuel atau BBG (Bahan Bakar Gas)
Jadi hilangkan premium 88, ganti dengan biofuel dengan harga sama atau lebih tinggi, lalu tawarkan konversi ke bahan bakar gas untuk angkutan umum.
|
|
|
|
|
|
|
The administrator has disabled public write access.
|
|
|
|
Re:Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana? 2 Years, 7 Months ago
|
Karma: 1
|
|
Setuju pak.
Sebenarnya, Indonesia mempunyai potensi yang besar sekali dalam bidang biofuel ini.
Banyak negara yang "ngiler" dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat mendukung antara lain faktor kelembaban udara dan sinar matahari.
Bahkan menurut analisa rekan saya di India (beliau seorang agronomist specialist di bidang biofuel), Indonesia mestinya bisa menjadi produsen biofuel terbesar di dunia dengan luas lahan yang besar, kelembaban udara yang tinggi (sehingga hampir tidak diperlukan pengairan, dengan demikian menghemat biaya produksi), sinar matahari sepanjang tahun.
Semua itu mengarah ke biaya produksi yang rendah dan produktivitas yang tinggi.
Sayang, potensi yang besar tersebut masih belum digarap dengan serius.
|
|
|
|
|
|
|
The administrator has disabled public write access.
|
Ber (User)
Fresh Boarder
Posts: 1
|
|
Re:Premium 88, Premium 90, Pertamax 92 - Bagaimana 1 Year, 9 Months ago
|
Karma: 0
|
|
Sebagai seorang pengamat, saya melihat keinginan pemerintah dan pengusaha tidak sejalan, misalkan pabrikan mobil dan motor berlomba-lomba menyesuaikan produknya dengan premium (bensin bersubsidi) bukan dengan pertamax. Dan pemerintah tidak tegas dengan ulah pengusaha ini. Kalau mau serius yah, buat peraturan dong yang isinya hanya boleh kendaraann buatan pabrik hanya boleh minum pertamax. Atau menggunakan kartu akses BBM yang banyak diusulkan oleh kalangan akademis. Pemerintah khususnya Departemen Perhubungan memble aja.
Mungkin pengaruh politik dinomorsatukan baru pengaruh rakyat di nomor kesekian.
He he he mungkin kali
ini cuma opini kok
|
|
|
|
|
|
|
The administrator has disabled public write access.
|
|
|
|
|
|
|