Sudah beberapa tahun lamanya, masyarakat Indonesia resah dengan ulah Malaysia yang mengakui budaya Indonesia sebagai budaya mereka.
Mulai dari batik, rendang, angklung, dll, mereka patenkan sebagai milik Malaysia.
Belum lama ini (sekitar awal Oktober 2007), muncul berita yang menjadi pemicu gelombang emosi masyarakat Indonesia yaitu pemerintah Malaysia memasang lagu "
Rasa Sayange" di situs promosi pariwisata mereka.
Sejumlah protes dilayangkan oleh Indonesia kepada Malaysia, tapi ditanggapi dingin dengan meminta Indonesia membuktikan bahwa lagu itu memang benar milik Indonesia.
Dari situ, muncul istilah "
Malingsia" yang menunjukkan kegeraman masyarakat Indonesia, belum lagi sejumlah aksi "dedemit maya" yang meng-deface web site Rasa Sayange sehingga akhirnya Malaysia menutup situs tersebut.
Belum selesai masalah lagu Rasa Sayange, muncul lagi
tari barong Malaysia yang ternyata sangat mirip dengan
Reog Ponorogo.
Dan kembali publik Indonesia menjerit dalam kemarahan.
Tapi, mungkin ulah Malaysia yang tidak berbudaya itu, sebagian diakibatkan oleh masyarakat Indonesia yang kurang menghargai budaya asli Indonesia.
Coba tanya remaja sekarang, apakah mereka mengenal tanjidor, jaipong, cokek.
Seberapa dari mereka yang pernah makan getuk lindri & semar mendem?
Posting ini dibuat dengan tujuan agar kita - selaku masyarakat Indonesia - mulai menyadari bahwa kalau kita sendiri tidak mengakui budaya kita sendiri, maka akan ada bangsa lain yang mengakuinya.
Langkah awal, mungkin dapat kita lakukan dengan menginventarisir budaya kita.
Oleh karena itu, ayo mulai menyumbangkan pengetahuan anda tentang budaya Indonesia lewat jawaban terhadap posting ini.
Format ini terinspirasi oleh
100 Things You Didn't Know About Thailand<br><br>Post edited by: Bursa Internet, at: 2007/11/27 13:42